Arsip untuk info bwt kamuwhhh semuwwa kategori

Posted in 'bout mY SpinE, Bwt lucu2an ajah, Jaland2, info bwt kamuwhhh semuwwa, semuwwaaaa bowt me dengan kaitan (tags) on Oktober 22, 2008 by uchie

t

PENGUMUMAN…


TEMAN2 YANG SYA SAYANGI DAN SAYA BANGGAKANNN.. cEILEHHH


BLOG AQUWH PINDAH ALAMAT NIH.. DAH GA DSINI LAGI…… liad bLog q yang baru itu,,skrg lebih gress… lebih fresss… lebih n punya taste..hehe narsis yia??? hahah


NI ALAMATNA

www.situs-qu.com ….

jadiii kalo mu liad2 apa kek apa kek,, buka ajah situs-qu.com ituwh… okeh temand2.. …

</font></CENTER>


Posted in info bwt kamuwhhh semuwwa on September 17, 2008 by uchie
[ Rabu, 17 September 2008 ]
Belajar Membagi Zakat dari Para Muzaki yang Pernah Bermasalah (1)

Libatkan Amil dan Wesel, Keluarga Tenang Tetangga Senang

Tragedi pembagian zakat yang menimbulkan korban jiwa seperti di Pasuruan pada Senin lalu (15/9) bukan yang pertama. Banyak muzaki (pembagi zakat) yang bernasib seperti Haji Syaichon, berniat mulia namun berujung malapetaka. Bagaimana mereka belajar dari musibah?

Chusnul Cahyadi-Pramita, Gresik.

Tragedi 27 September 2007 masih belum bisa dilupakan keluarga almarhum Muhammad bin Alwi, warga Jalan KH Zubair, Kecamatan Gresik. Niat baik membantu membagikan zakat dengan nilai Rp 50 ribu untuk kaum Hawa dan Rp 100 ribu untuk kaum Adam telah merengut seorang korban jiwa dan melukai sejumlah pencari zakat. Kini setelah setahun berlalu, kenangan buruk itu muncul kembali seiring musibah serupa, namun dengan jumlah korban jauh lebih banyak, yang terjadi pada keluarga Haji Syaichon di Pasuruan.

Jawa Pos yang mendatangi rumah almarhum Muhammad bin Alwi kemarin (16/9) mendapati suasana sepi. Di rumah berlantai dua dengan dominasi warna oranye itu kini terpasang sebuah pengumuman dari kertas kuning mencolok berukuran 50 x 100 sentimeter. Isi pengumuman itu adalah Zakat Keluarga Kami Telah Disalurkan melalui Panitia Zakat Bertempat di Jalan Malik Ibrahim 35, Gresik (Depan Makam Syek Maulana Malik Ibrahim).

Pengumuman itu ditempelkan karena ribuan warga miskin dari berbagai daerah masih saja mendatangi rumah pengusaha sarung dan sarang burung walet tersebut sejak awal Ramadan lalu.

Suasana yang dijumpai Jawa Pos saat berkunjung sangat jauh berbeda dengan kondisi setahun lalu. Saat itu, banyak orang berkumpul di luar pintu rumah megah Haji Muhammad bin Alwi yang ditempati putra sulungnya, Muhammad Bamariam. Mereka berasal dari Gresik, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, bahkan Pasuruan. Harapannya satu, mereka bisa didaftarkan untuk mendapatkan zakat dari keluarga almarhum Muhammad bin Alwi.

Saat menyerahkan zakat secara langsung setahun lalu, pembagian untuk perempuan dipusatkan di rumah Muhammad Bamariam. Sedangkan pembagian untuk penerima laki-laki dipusatkan di rumah kosong Muhammad bin Alwi yang dijadikan tempat usaha sarang burung di Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik. Jaraknya sekitar 2 km dari rumah keluarga yang ditempati Muhammad Bamariam. Di tempat pambagian zakat untuk kaum laki-laki itulah bencana terjadi.

Saat itu, diperkirakan 2.000 orang berebut mendapatkan zakat. Agus Setiawan, salah seorang karyawan Muhammad Bamariam, menceritakan bahwa korban sudah jatuh saat pembagian zakat belum dimulai.

”Saat pintu dibuka, sontak warga berebut masuk. Mereka saling mendahului untuk bisa masuk rumah,” ceritanya. ”Saat itulah, tiba-tiba ada yang teriak ‘ada yang jatuh, ada yang jatuh. Ada yang terinjak’,” lanjut Agus.

Melihat ada yang jatuh dan terinjak kerumunan massa, beberapa orang berupaya menyelamatkan sesosok pria bertubuh agak besar yang ternyata diketahui bernama Rochmad, 42, warga Jl KH Zubair Gang 37 no 22 Desa Pulopancian. Dia adalah tetangga dekat keluarga Muhammad Bamariam.

Pria yang telah menikah 10 tahun namun belum dikaruniai momongan itu tewas setelah jatuh dan terinjak massa hanya dua meter dari pintu masuk ruang pembagian zakat. Beberapa anak juga ikut pingsan setelah jatuh akibat didorong kerumunan warga yang berebut masuk untuk antre zakat.

Sejumlah tetangga yang ditemui Jawa Pos mengakui, keluarga pengusaha keturunan Arab itu masih mengalami trauma peristiwa 27 September 2007. ”Mungkin, kejadian setahun lalu membuat keluarga bos saya masih trauma,” duga Agus.

Kejadian setahun lalu itu diduga masih membayang-bayangi ingatan keluarga almarhum Muhammad bin Alwi. Sebab, selain jatuhnya korban meninggal, puluhan pencari zakat mengalami luka-luka sehingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Muhammadiyah, Gresik.

Bukan hanya itu, niat baik Muhammad Bamariam, yang waktu itu ditunjuk sebagai penanggung jawab pembagian zakat untuk meringankan beban warga kurang beruntung, malah harus berurusan dengan kepolisian. Bahkan, Bamariam harus menjalani pemeriksaan beberapa hari untuk menjelaskan tragedi memilukan tersebut kepada penyidik Polres Gresik.

Anggapan semula membagikan sendiri zakat lebih afdol (lebih baik) pun kini mulai sirna. Karena itu, keluarga almarhum Muhammad bin Alwi menyerahkan pengelolaan zakat kepada lembaga amil, zakat, infak, dan sedekah, yakni Yayasan Masjid Maulana Malik Ibrahim.

Bagaimana data orang miskin yang berhak mendapatkan zakat penghasilan tersebut? Muhammad Bamariam mengatakan, data warga yang berhak mendapatkan zakat berasal dari para ketua rukun tetangga (RT) di sekitar rumah. ”Data tersebut kemudian kami seleksi lagi. Bagi yang lolos, daftar penerima zakat akan kami serahkan badan amil. Dan, badan tersebut nanti membagikan melalui ketua RT,” terangnya saat ditemui Jawa Pos setelah salat Tarawih tadi malam (16/9).

Bagaimana masyarakat miskin di luar Gresik? Untuk mayarakat di luar Kabupaten Gresik, zakat akan disalurkan melalui wesel pos. ”Nama-namanya sudah terdata di badan amil,” lanjut Bamariam.

Menurut salah seorang sepupu Bamarian, Muhammad Abro, hingga kini tercatat sekitar 4.000 nama warga yang masuk ke badan amil. ”Semoga melalui ini, kejadian seperti tahun lalu tidak terulang,” imbuhnya.

Langkah yang ditempuh Bamariam itu mendapatkan sambutan positif sejumlah warga yang kebetulan menunaikan salat Tarawih bersama Bamariam di Musala Melayu. “Kasihan melihat orang yang sampai meninggal hanya karena berjubelan demi uang yang tak seberapa,” tutur Rahman.

Bamarian melanjutkan, dia masih belum bisa menyatakan apakah metode itu akan lebih baik daripada tahun lalu. ”Belum terbukti, mungkin Ramadan tahun depan baru akan terlihat efektivitasnya,” ujar ayah dari Afifah, 15, itu. Hingga kini, proses pemberian zakat sedang memasuki tahap seleksi. Badan amil sudah menutup pendaftaran bagi warga yang ingin menerima zakat dari keluarga Bamariam.

Saat Jawa Pos menanyakan nilai zakat yang diberikan pada tahun ini, Bamariam menolak merinci. ”Biarlah itu menjadi rahasia kami dengan Allah SWT saja,” katanya.

ya ampuwnnnn

Posted in info bwt kamuwhhh semuwwa on September 16, 2008 by uchie

Innalillahi

wainnalillahirojiun….

di bulan puasa yg suci ini, ada ajah kejadian yg bikin hati ini miris.

mawna berniat baik, ehhh malah dapet musibah,

mawna dapet duit, eh malah dapet ajal

nasib… nasib…

ni cerita selengkapnya tentang pembagian zakat H. Syaikhon, pengusaha sukses asal pasuruan :

Maksud hati ingin membantu fakir miskin dengan zakat Rp 30.000, tapi malah berujung tragedi tewasnya 21 orang, satu kritis, dan 12 orang terluka. Atas keteledoran itu, kini Syaikhon, istri, dan tiga anaknya beserta belasan panitia dibawa ke Mapolres Kota Pasuruan. Mereka diamankan dari amarah warga.

Radar Bromo (Jawa Pos Group) melaporkan, kejadian yang memilukan umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa itu berawal dari keputusan Syaikhon untuk kembali menerapkan pola pembagian zakat masal. Pengusaha kulit dan peternak sarang burung walet tersebut mengundang warga ke rumahnya di mulut Gang Pepaya Jalan Wahidin Selatan, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, untuk menerima uang tunai Rp 30 ribu per orang.

Undangan bagi-bagi duit di tengah ekonomi sulit seperti sekarang itu kontan menarik ribuan orang untuk datang. Apalagi, jumlah yang dibagikan tahun ini lebih besar daripada tahun lalu yang hanya Rp 25 ribu. Umumnya warga mendengar adanya pembagian uang Syaikhon itu dari mulut ke mulut. Sebagian menguping siaran Radio FM Ramapati Pasuruan. ”Sedekah itu juga diumumkan di radio,” ungkap salah seorang warga.

Mereka yang berbondong-bondong ke rumah Syaikhon bukan hanya tetangga sekitar, tapi juga dari daerah pedesaan wilayah Kabupaten Pasuruan yang berjarak sekitar 20 kilometer. Bahkan, ada beberapa yang datang dari luar kota seperti Jember dan Kediri. Ingin mendapat lokasi terdepan, mereka nyanggong (menunggu) pembagian zakat di depan rumah Syaikhon sejak usai sahur.

Melihat warga yang datang membeludak, panitia yang semua berasal dari keluarga Syaikhon memutuskan memindah lokasi pembagian zakat dari rumahnya ke musala Al Raudatul Jannah yang berjarak sekitar 10 meter. Mulut Gang Pepaya sampai samping musala ditutup gedek (anyaman bambu).

Di samping musala itu kemudian diberi celah untuk pintu masuk. Semua calon penerima zakat harus melalui pintu masuk tersebut, kemudian diberi tanda tinta merah di tangannya. Selanjutnya, mereka mengantre di depan musala yang berpagar besi. Di depan musala ada tanah lapang 8 x 4 meter. Di tempat itu panitia menyediakan 13 tenda kecil.

Jumlah warga yang datang ke rumah Syaikhon diperkirakan mencapai belasan ribu orang. Angka persisnya simpang siur. Ada yang menyebut kerumunan manusia itu mencapai 30 ribu orang. Warga yang hampir semua ibu-ibu yang sebagian membawa balita tersebut meluber mulai Gang Pepaya sampai Jalan Wahidin, jalan raya yang menghubungkan Surabaya-Malang dan Probolinggo.

Sekitar pukul 08.00, Syaikhon dan putranya, Vivin, 30, dan Faruq, 28 terlihat sibuk menata pembagian zakat. Keduanya menata pagar untuk jalan akses penerima zakat di dalam musala. Beberapa saat kemudian, terlihat istri Syaikhon, Ny Hanifa, 50. Ia berjalan memakai tongkat sambil dituntun beberapa keluarganya menuju musala.

Mulai sekitar pukul 09.00, pembagian zakat dimulai. Pintu musala sebelah utara akhirnya dibuka panitia. “Masuknya satu satu. Jangan dorong-dorongan,” ucap seorang panitia kepada massa yang berkumpul di depan musala. Walau aksi pembagian zakat berada di dalam musala, namun jumlah massa yang berada di luar musala diperkirakan ada sekitar empat ribu orang.

Panitia yang bertugas membagikan zakat membuka pagar yang berukuran dua meter tersebut. Bukaan pintu pagar dibuka hanya cukup untuk satu orang yang masuk ke dalam musala. Panitia pun membatasi orang yang masuk ke dalam musala sebanyak lima orang sampai sepuluh orang. Jika yang di dalam telah menerima dan keluar lewat pintu selatan, barulah panitia membuka pintu pagar depan kembali. Begitu seterusnya.

Bagi orang yang telah menerima zakat sebesar rp 30 ribu, orang tersebut harus diberi sumba (pewarna) yang diletakkan di pintu keluar sebelah Selatan musala. Dua orang panitia zakat bertugas mencelupkan jari tangan massa yang telah mendapatkan uang. Sembari Ny Hanifa membagikan zakat, terlihat H Syaikhon berlalu lalang mengawasi. Sambil mengenakan baju hitam, lelaki tersebut memegang ponselnya. Namun ia lebih sering keluar dari dalam musala melalui pintu keluar.

Memasuki pukul 09.15, hampir sekitar lima puluh orang telah menerima zakat. Usaha mereka berlomba terbilang cukup semangat untuk memasuki pintu masuk musala. Sebab, mereka harus berdesak-desakan dengan sesama penerima. Ada pula massa yang kebingungan dengan anak yang digendongnya. “Mas, tolong anakku bawa ke dalam. Aku nggak kuat,” ucap Surti, calon penerima zakat, sambil mendorong ke atas anaknya melalui celah pagar. Tak pelak massa lain yang membawa anaknya ikut meminta tolong para wartawan yang meliput dari dalam musala.

Lama-kelamaan pun aksi dorong massa semakin brutal. Mereka ingin cepat-cepat mendapatkan santunan zakat. Hingga akhirnya barisan depan yang berada di pintu musala semakin terhimpit. Ada yang menjerit kesakitan dan banyak juga yang menangis histeris. “Mas..mas mbokku (ibuku) pingsan!” teriak salah satu dari mereka.

Tak pelak para panitia turun menolong massa yang pingsan tersebut. Terlihat pula putra Syaikhon, Faruq, turun langsung di tengah kerumunan massa untuk membawa beberapa orang yang mulai jatuh pingsan. Panitia yang lain sibuk menyiram air dari selang kran musala untuk membuyarkan massa yang menumpuk. Awalnya pertolongan dari pantia memang efektif. Siraman air dari panitia bisa sedikit melonggarkan udara dan hawa panas. Banyak dari mereka yang memanfaakan siraman air tersebut untuk minum.

Namun, sekitar pukul 09.30 aksi dorong-dorongan massa semakin hebat. Banyak kumpulan orang yang jatuh tergeletak ke tanah hingga akhirnya terinjak massa yang lain. “Yo’opo iki (bagaimana ini). Jangan dorong-dorongan, kasian yang jatuh,” ucap seorang panitia.

Sayang, penertiban panitia tidak membuahkan hasil. Justru massa semakin menjorok ke pintu masuk musala. Suasana kacau. Massa yang berada di pintu depan musala benar-benar terjebak dan terhimpit pagar.

Jeritan-jeritan histeris menyeruak, bercampur aduk dengan suara orang mengaduh-aduh. Mereka yang sadar dalam kondisi bahaya, berusaha menyelamatkan diri. Tapi, itu tidak mudah bagi yang sudah berada di tengah kerumunan. Tarik menarik demi penyelamatan diri terjadi. Ada wanita yang sampai bajunya robek di tengah tarik menarik itu.

Suasana semakin tak terkendali. Beberapa orang yang terjepit, terinjak, kehabisan napas, berjatuhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terlihat digotong kedalam musala dalam keadaan meninggal dunia. Korban yang meninggal tersebut akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Wartawan pun jadi ikut sibuk membantu mengevakuasi korban. Jatuh satu korban jiwa tak membuat kegiatan itu bubar.

Dengan adanya satu korban yang meninggal tidak menurutkan massa memberhentikan aksi dorong-mendorong. Mereka semua justru bingung tidak bisa menemukan jalan keluar karena jalan dari depan gang Pepaya ditutup. Kontan aksi dorong tersebut semakin menambah jumlah korban. Satu per satu pula korban berjatuhan. Para korban tewas di tempat kejadian lalu dikumpulkan begitu saja di jalan gang.

Sampai pukul pukul 10.15, sudah ada enam orang tewas. Itu belum termasuk mereka yang kritis hingga harus dilarikan ke RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan (RSUD Purut) yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Kondisi massa baru dapat dikendalikan ketika petugas Polsek Purworejo dan Polresta Pasuruan datang ke lokasi sekitar pukul 10.55. Sejumlah anggota yang datang dengan mobil patroli langsung mengamankan kerumunan massa. Kerumunan tersebut baru dapat dibubarkan sekitar pukul 11.10.

Bubaran kumpulan massa tersebut tidak serta merta mengatasi masalah. Sebab, ternyata korban meninggal dunia terus bertambah. Petugas pun langsung mengevakuasi para korban baik yang sudah meninggal maupun kritis dengan mobil patroli polisi dan kendaraan ala kadarnya macam pikap bak terbuka.

Sampai tadi malam, korban tewas dipastikan 21 orang dan satu orang kritis. Semua wanita berusia 30-67 tahun. Dua belas orang lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit karena menderita sesak napas serta memar-memar.

Kepala Kepolisian Resor Kota Pasuruan Ajun Komisaris Besar Harry Sitompul menyatakan, umumnya korban tewas karena kekurangan oksigen, pingsan, dan terinjak-injak. Hal itu didasarkan pada hasil�pemeriksaan dalam (visum et repertum) terhadap jenazah para korban.

Menurut dia, akibat berdesak-desakan, para korban yang telah kekurangan oksigen jatuh pingsan dan terinjak-injak. Padahal, petugas keamanan dan petugas kesehatan tidak ada di lokasi kejadian, sehingga para korban tidak tertolong.

Sebanyak 21 korban tewas yang telah berhasil diidentifikasi itu sudah diambil keluarganya.�Sembilan korban luka masih dirawat di RSUD dr Soedarsono, Kota Pasuruan.

disunting dari jawapos