
Libatkan Amil dan Wesel, Keluarga Tenang Tetangga Senang
Tragedi pembagian zakat yang menimbulkan korban jiwa seperti di Pasuruan pada Senin lalu (15/9) bukan yang pertama. Banyak muzaki (pembagi zakat) yang bernasib seperti Haji Syaichon, berniat mulia namun berujung malapetaka. Bagaimana mereka belajar dari musibah?
Chusnul Cahyadi-Pramita, Gresik.
Tragedi 27 September 2007 masih belum bisa dilupakan keluarga almarhum Muhammad bin Alwi, warga Jalan KH Zubair, Kecamatan Gresik. Niat baik membantu membagikan zakat dengan nilai Rp 50 ribu untuk kaum Hawa dan Rp 100 ribu untuk kaum Adam telah merengut seorang korban jiwa dan melukai sejumlah pencari zakat. Kini setelah setahun berlalu, kenangan buruk itu muncul kembali seiring musibah serupa, namun dengan jumlah korban jauh lebih banyak, yang terjadi pada keluarga Haji Syaichon di Pasuruan.
Jawa Pos yang mendatangi rumah almarhum Muhammad bin Alwi kemarin (16/9) mendapati suasana sepi. Di rumah berlantai dua dengan dominasi warna oranye itu kini terpasang sebuah pengumuman dari kertas kuning mencolok berukuran 50 x 100 sentimeter. Isi pengumuman itu adalah Zakat Keluarga Kami Telah Disalurkan melalui Panitia Zakat Bertempat di Jalan Malik Ibrahim 35, Gresik (Depan Makam Syek Maulana Malik Ibrahim).
Pengumuman itu ditempelkan karena ribuan warga miskin dari berbagai daerah masih saja mendatangi rumah pengusaha sarung dan sarang burung walet tersebut sejak awal Ramadan lalu.
Suasana yang dijumpai Jawa Pos saat berkunjung sangat jauh berbeda dengan kondisi setahun lalu. Saat itu, banyak orang berkumpul di luar pintu rumah megah Haji Muhammad bin Alwi yang ditempati putra sulungnya, Muhammad Bamariam. Mereka berasal dari Gresik, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, bahkan Pasuruan. Harapannya satu, mereka bisa didaftarkan untuk mendapatkan zakat dari keluarga almarhum Muhammad bin Alwi.
Saat menyerahkan zakat secara langsung setahun lalu, pembagian untuk perempuan dipusatkan di rumah Muhammad Bamariam. Sedangkan pembagian untuk penerima laki-laki dipusatkan di rumah kosong Muhammad bin Alwi yang dijadikan tempat usaha sarang burung di Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik. Jaraknya sekitar 2 km dari rumah keluarga yang ditempati Muhammad Bamariam. Di tempat pambagian zakat untuk kaum laki-laki itulah bencana terjadi.
Saat itu, diperkirakan 2.000 orang berebut mendapatkan zakat. Agus Setiawan, salah seorang karyawan Muhammad Bamariam, menceritakan bahwa korban sudah jatuh saat pembagian zakat belum dimulai.
”Saat pintu dibuka, sontak warga berebut masuk. Mereka saling mendahului untuk bisa masuk rumah,” ceritanya. ”Saat itulah, tiba-tiba ada yang teriak ‘ada yang jatuh, ada yang jatuh. Ada yang terinjak’,” lanjut Agus.
Melihat ada yang jatuh dan terinjak kerumunan massa, beberapa orang berupaya menyelamatkan sesosok pria bertubuh agak besar yang ternyata diketahui bernama Rochmad, 42, warga Jl KH Zubair Gang 37 no 22 Desa Pulopancian. Dia adalah tetangga dekat keluarga Muhammad Bamariam.
Pria yang telah menikah 10 tahun namun belum dikaruniai momongan itu tewas setelah jatuh dan terinjak massa hanya dua meter dari pintu masuk ruang pembagian zakat. Beberapa anak juga ikut pingsan setelah jatuh akibat didorong kerumunan warga yang berebut masuk untuk antre zakat.
Sejumlah tetangga yang ditemui Jawa Pos mengakui, keluarga pengusaha keturunan Arab itu masih mengalami trauma peristiwa 27 September 2007. ”Mungkin, kejadian setahun lalu membuat keluarga bos saya masih trauma,” duga Agus.
Kejadian setahun lalu itu diduga masih membayang-bayangi ingatan keluarga almarhum Muhammad bin Alwi. Sebab, selain jatuhnya korban meninggal, puluhan pencari zakat mengalami luka-luka sehingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Muhammadiyah, Gresik.
Bukan hanya itu, niat baik Muhammad Bamariam, yang waktu itu ditunjuk sebagai penanggung jawab pembagian zakat untuk meringankan beban warga kurang beruntung, malah harus berurusan dengan kepolisian. Bahkan, Bamariam harus menjalani pemeriksaan beberapa hari untuk menjelaskan tragedi memilukan tersebut kepada penyidik Polres Gresik.
Anggapan semula membagikan sendiri zakat lebih afdol (lebih baik) pun kini mulai sirna. Karena itu, keluarga almarhum Muhammad bin Alwi menyerahkan pengelolaan zakat kepada lembaga amil, zakat, infak, dan sedekah, yakni Yayasan Masjid Maulana Malik Ibrahim.
Bagaimana data orang miskin yang berhak mendapatkan zakat penghasilan tersebut? Muhammad Bamariam mengatakan, data warga yang berhak mendapatkan zakat berasal dari para ketua rukun tetangga (RT) di sekitar rumah. ”Data tersebut kemudian kami seleksi lagi. Bagi yang lolos, daftar penerima zakat akan kami serahkan badan amil. Dan, badan tersebut nanti membagikan melalui ketua RT,” terangnya saat ditemui Jawa Pos setelah salat Tarawih tadi malam (16/9).
Bagaimana masyarakat miskin di luar Gresik? Untuk mayarakat di luar Kabupaten Gresik, zakat akan disalurkan melalui wesel pos. ”Nama-namanya sudah terdata di badan amil,” lanjut Bamariam.
Menurut salah seorang sepupu Bamarian, Muhammad Abro, hingga kini tercatat sekitar 4.000 nama warga yang masuk ke badan amil. ”Semoga melalui ini, kejadian seperti tahun lalu tidak terulang,” imbuhnya.
Langkah yang ditempuh Bamariam itu mendapatkan sambutan positif sejumlah warga yang kebetulan menunaikan salat Tarawih bersama Bamariam di Musala Melayu. “Kasihan melihat orang yang sampai meninggal hanya karena berjubelan demi uang yang tak seberapa,” tutur Rahman.
Bamarian melanjutkan, dia masih belum bisa menyatakan apakah metode itu akan lebih baik daripada tahun lalu. ”Belum terbukti, mungkin Ramadan tahun depan baru akan terlihat efektivitasnya,” ujar ayah dari Afifah, 15, itu. Hingga kini, proses pemberian zakat sedang memasuki tahap seleksi. Badan amil sudah menutup pendaftaran bagi warga yang ingin menerima zakat dari keluarga Bamariam.
Saat Jawa Pos menanyakan nilai zakat yang diberikan pada tahun ini, Bamariam menolak merinci. ”Biarlah itu menjadi rahasia kami dengan Allah SWT saja,” katanya.